ANTHROPOLOGI
· By Linda Araini on Apr 16, 2008 | Reply
Menulis buku ajar benar – benar merupakan hal yang baru bagi mahasiswa sejarah karena sebelumnya memang belaum pernah. Hanya saja pasti mengalami kesulitan dalam menguraikan kata – kata.Ya semoga saja dengan semakin banyak membaca perbendaharaan kata semakin bertambah dan setelah membaca buku Bapa, mahasiswa jadi bisa menulis tanpa ragu dan tanpa beban.Tak perlu takut salah, karena seseorang itu belajar dari kesalahan baru bisa benar.
· By Linda Araini on May 3, 2008 | Reply
Difusi Difusi juga diartikan sebagai proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu ke individu lain dan dari masyarakat ke masyarakat yang lain. Suatu penemuan baru dapat ditularkan/disebarkan kepada masyarakat luas melalui difusi sehingga semua manusia yang ada di dunia dapat menikmati kegunaannya. Antropologi menekankan pentingnya difusi sebagai suatu pola perubahan.. Pengertian difusi menurut: 1.Rogers (1969) mengemukakan bahwa difusi adalah proses suatu ide-ide baru yang disampaikan melalui sistem hubungan sosial tertentu. 2.Kroeber mengemukakan bahwa difusi selalu menimbulkan perubahan sebagai kebudayaan yang menerima unsur kebudayaan lainnya yang menyebar itu. Pernyatan Kroeber ini jelas karena sifat keterbelakangan kebudayaan marginal yaitu kebudayaan yang paling jauh dari pusat kebudayaan yng lebih tinggi dan akibatnya kurang mendapat keuntungan dari difusi sehingga perkembangannya jauh tertinggal di belakang misalnya masyarakat yang relative terisolasi tak pernah sekaya dan seterampil masyarakat yang berinteraksi dengan masyarakat lain. 3. William A.Haviland mengemukakan bahwa difusi sebagai penyebaran adat/kebiasaan dari kebudayaan yang satu kepada kebudayaan yang lainnya. 4.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, difusi diartikan sebagai proses penyebaran/ perembesan kebudayaan dari satu pihak kepada pihak lain (dari kebudayaan yang satu ke kebudayaan yang lainnya). Ada 2 tipe difusi : 1. Difusi intramasyarakat terpengaruh oleh beberapa faktor, misalnya: *. suatu pengakuan bahwa unsur yang baru tersebut mempunyai kegunaan. * ada tidaknya unsur-unsur kebudayaan yang mempengaruhi diterimanya atau tidak diterimanya unsur-unsur yang baru. * unsur baru yang berlawanan dengan fungsi unsur lama, kemungkinan besar tidak akan diterima. *. kedudukan dan peranan sosial dari individu yang menemukan hal baru tidak akan mempengaruhi apakah hasil penemuannya itu dengan mudah diterima atau tidak. 2. Difusi antarmasyarakat : *. adanya kontak antarmasyarakat-masyarakat tersebut. *. kemampuan untuk mendemonstrasikan kemanfaatan penemuan baru. *. pengakuan akan kegunaan penemuan baru. *.ada tidaknya unsur-unsur kebudayaan yang menyaingi unsur-unsur penemuan baru. *. peranan masyarakat yang menyebarkan penemuan baru di dunia ini. *. paksaan dapat juga dipergunakan untuk menerima suatu penemuan baru. 3. Bentuk difusi : a. difusi ekspansi adalah proses di mana informasi / material manjalar dari satu daerah ke daerah lain yang semakin luas/urbanisasi, penyebaran sistem uang, berita dari koran / tv. b.difusi relokasi adalah informasi atau materi pindah meninggalkan daerah asal ke suatu daerah baru/transmigrasi c.difusi cascade/bertingkat yaitu penjalaran melalui tingkatan dari atas ke bawah yang disebut top down. contohnya : Keluarga Berencana sedangkan dari bawah ke atas yang disebut bottom up. Contohnya : kebutuhan sarana jalan dari masyarakat diteruskan ke Kepala Desa, ke Camat , Bupati dan sebagainya. Penyebaran Manusia. Ilmu paleoantropologi telah memperkirakan bahwa makhluk manusia terjadi di suatu daerah tertentu di muka bumi, yaitu daerah sabana tropikal di Afrika Timur, sedangkan sekarang makhluk itu menduduki hampir seluruh muka bumi ini dalam segala macam lingkungan iklim. Hal ini dapat diterangkan dengan adanya proses pembiakan dan gerak migrasi – migrasi yang disertai dengan proses penyesuaian atau adaptasi fisik dan sosial budaya dari makhluk manusia dalam jangka waktu yang lama sejak zaman purba, misalnya persebaran manusia dengan cirri – cirri Austro-Melanesoid. Nenek moyang dari manusia Wajak (Homo Wajakensis), sebelumnya sudah ada yang sejak lama menyebar ke arah timur menduduki Irian, sebelum Kala Es ke-IV berakhir dan sebelum kenaikan permukaan laut yang terjadi waktu itu memisahkan Irian dari bagian barat dari Indonesia dan dari benua Australia. Migrasi yang lambat dan otomatis adalah sejajar dengan perkembangan dari makhluk manusia yang rupa-rupanya selalu bertambah jumlahnya sejak masa timbulnya di muka bumi hingga sekarang. Dalam proses evolusi serupa itu makhluk manusia seolah-olah selalu memerlukan tempat – tempat yang baru di muka bumi. Sebagian besar dari kelompok-kelompok manusia dalam zaman purba hidup dari berburu. Dari suku-suku bangsa di muka bumi yang sampai sekarang masih hidup dari berburu, kita mengetahui bahwa sekelompok manusia berburu, walaupun memang tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, tetapi selalu bergerak dalam batas suatu wilayah berburu yang tetap misalnya manusia purba dulu hidupnya berkelompok di daerah muara-muara sungai di mana mereka hidup dari usaha menangkap ikan di sungai, dari meramu tumbuh-tumbuhan dan akar-akaran dan dari berburu di hutan belukar. Wilayah itu dikenal oleh warga kelompok bersangkutan dengan teliti sekali. Pengetahuan itu, yaitu pengetahuan tentang topografi tanah, tentang tempat-tempat yang dilalui binatang,tempat-tempat di mana terdapat belukar dan sebagainya, sangat vital bagi sekelompok bangsa berburu. Untuk beberapa saat manusia purba dikatakan hidup menetap, namun dilihat dari jangka waktu yang panjang, suatu kelompok manusia lama-lama akan pindah juga dikarenakan binatang buruaan mulai berkurang atau karena dalam wilayah yang lama jumlah manusia sudah mulai terlampau banyak. Namun, perpindahan itu berjalan sangat lambat, dan biasanya tanpa disadari orang – orang yang bersangkutan. Migrasi manusia yang berlangsung cepat dan mendadak itu disebabkan oleh beberapa hal, yaitu bencana alam, wabah, perubahan mata pencaharian hidup, peperangan, dan juga sejarah seperti perkembangan pelayaran bangsa Cina di Asia Timur dan Asia Tenggara; perkembangan pelayaran bangsa-bangsa Arab di Asia Selatan dan Afrika Timur; migrasi dari bangsa Arab dari Asia Barat ke Afrika Utara; perkembangan pelayaran dari bangsa-bangsa Eropa ke Benua Afrika, Asia dan Amerika dan sebagainya. Penyebaran Unsur-Unsur Kebudayaan. Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan dan sejarah dari proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru dunia yang disebut proses difusi (diffusion). Salah satu bentuk difusi adalah penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi, yang di bawa oleh kelompok-kelompok manusia yang bermigrasi. Terutama dalam zaman prehistori, puluhan ribu tahun yang lalu, ketika kelompok-kelompok manusia yang hidup dari berburu pindah dari satu tempat ke tempat-tempat yang lain hingga jauh sekali, maka unsur-unsur kebudayaan yang mereka bawa juga didifusikan hingga jauh sekali. Bekas-bekas difusi itu yang sekarang menjadi salah satu obyek penelitian ilmu prehistori, misalnya pada masa sekarang bekas-bekas perkampungan serupa apa yang disebut oleh para ahli perhistori disebut abris sous roches (tempat-tempat perlindungan di bawah karang), misalnya karang-karang atau gua – gua dengan himpunan tanah pada dasarnya yang mengandung bekas-bekas alat-alat batu, tulang, dan kerang dari zaman dahulu. Adapula bekas-bekas timbunan sampah dapur yang berasal dari kerang, yang oleh para ahli prehistori disebut kjokkenmoddinger(sampah dapur). Sekarang tempat-tempat itu berupa bukit-bukit kerang yang mengandung alat-alat dari zaman prehistori dengan suatu corak tertentu yang ditandai antara lain oleh kapak genggam. Penyebaran unsur-unsur kebudayaan dapat juga terjadi tanpa ada perpindahan kelompok-kelompok manusia atau bangsa-bangsa dari satu tempat ke tempat lain, tetapi oleh karena ada individu-individu tertentu yang membawa unsur-unsur kebudayaan itu hingga jauh sekali. Mereka itu adalah terutama pedagang dan pelaut. Pada zaman penyebaran agama-agama besar, kaum pendeta Buddha, para pendeta Nasrani, dan kaum muslimin mendifusikan berbagai unsur kebudayaan dari mana mereka berasal, sampai jauh sekali. Agama Buddha menyebar di sekitar Asia Tenggara, termasuk Sri lanka, bagian barat Laut Cina,Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam dan Thailand. Pada zaman penyebaran agama Islam, pedagang – pedagang yang berasal dari Parsi dan Gujarat datang berdagang ke Asia Tenggara terutama Indonesia, selang beberapa lama penyebaran agama Islam di Indonesia khususnya di Jawa dilakukan oleh para Wali yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Pada zaman penyebaran agama Nasrani yang membawa pengaruh kebudayaan Eropa, yang juga masuk ke Indonesia dalam rangka kolonialisme Belanda, ialah agama Katolik dan agama Kristen Protestan (terutama dari aliran Calvinisme), agama-agama tersebut disiarkan dengan sengaja oleh organisasi-organisasi penyiaran agama (missie untuk agama Katolik dan Zending untuk agama Kristen). Bentuk difusi lain yang mendapat perhatian ilmu antropologi adalah penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang berdasarkan pertemuan-pertemuan antara individu-individu dalam suatu kelompok manusia dengan individu-individu kelompok-kelompok tetangga yang berlangsung dengan berbagai cara, yaitu : 1.Symbiotic adalah hubungan di mana bentuk dari kebudayaan itu masing-masing hampir tidak berubah, misalnya berbagai suku bangsa Afrika hidup bercocok tanam di ladang. Kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari suku-suku bangsa Negrito yang hidup dari berburu dan hasil hutan itu dibarter dengan hasil pertanian. Kedua belah pihak saling membutuhkan, tetapi hanya terbatas pada barter barang-barang itu sedangkan proses pengaruh-mempengaruhi yang lebih jauh tidak ada. 2.Penetration pacifique, artinya “pemasukan secara damai”. Adalah bentuk hubungan yang disebabkan karena perdagangan, tetapi dengan akibat yang lebih jauh daripada yang terjadi pada hubungan symbiotic. Unsur-unsur kebudayaan asing dibawa oleh pedagang masuk ke dalam kebudayaan penerima dengan tidak sengaja dan tanpa paksaan. Pemasukan secara tidak damai terdapat pada bentuk hubungan yang disebabkan karena peperangan dan serangan penaklukan yang mana di dalamnya terdapat perlaanan fisik… . Difusi merupakan salah satu proses dari transformasi kebudayaan menyangkut faktor eksternal karena adanya dua kelompok yang bertemu yaitu kelompok asing dan kelompok lokal menyebabkan terjadinya pertemuan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda. Hal ini dianggap sebagai salah satu bentuk komunikasi dari luar. Proses difusi ini bisa dilakukan melalui kemajuan teknologi komunikasi seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, buku, film atau satelit.
By Linda Araini on Jun 27, 2008 | Reply
Menulis bagi saya memerlukan semangat. Dengan Semangat, siapa pun bisa menulis asal dia mau dan melakukannya.Meskipun menulis dikatakan mudah dan tidak memerlukan teori tapi bagi saya, jika tulisan tersebut hanya untuk di baca oleh dirinya sendiri tak apa jika asala-asalan atau semaunya tapi jika tulisan tersebut nantinya untuk dibaca oleh orang lain maka haruslah memeperhatikan aturan-aturan tertentu agar tulisan tersebut tidak berdampak buruk bagi si penulis dan orang lain. Dengan adanya buku yang ditulis oleh mahasiswa semester IV dan VI semoga ini menjadi awal untuk mahasiswa mulai menulis sesering mungkin
· By Linda Araini on Jun 7, 2008 | Reply
Manusia purbakala wajar saja jika tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis, hidupnya saja bergantung dengan apa yang disediakan oleh alam begitu pula dengan hidup yang berpindah-pindah. jika dilihat berbeda sekali dengan kehidupan msnusia di zaman sekarang yang lebih maju. manusia bukan hanya bisa tergantung pada alam tetapi juga mengolah alam dengan adanya berbagai kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. seharusnya memang, kemajuan yang ada diarengi dengan semangat untuk mbaca dan menulis agar tidak ketinggalan. Dengan membaca dan menulis kita bisa mengikuti perubahan zaman dan pengetahuan yang ada di otak kita bisa bertambah.Bukankah kita lebih maju dalam cara berpikir dari pada manusia purbakala oleh karena itu kita harus meningkatkan kemampuan membaca dan menulis.
· By Linda Araini on Jun 7, 2008 | Reply
jika merasa sebagai manusia sejarah dan bukan sebagai manusia prasejarah, maka mulailah dari sekarang untuk kita semua belajar menulis, karena untuk menulis tidak diperlukan banyak biaya dan tenaga namun hanya pengetahuan yang diperlukan dengan banyak-banyak membaca.Apalagi kita sekarang yang katanya hidup di zaman serba modern, bukankah itu artinya sudah ada kemajuan dari waktu ke waktu,mengapa harus banyak beralasan untuk memulai suatu yang baru dengan membaca dan menulis. Dengan melatih diri kita untuk membaca dan menulis itu sama artinya dengan kita meneingkatkan kualitas kita sebagai manusia sejarah yang sudah berada di zaman yang serba modern.Semakin sering kita untuk membaca dan menulis berarti semakin kita berusaha untuk memperkaya diri kita dengan ilmu yang akan berguna bagi diri kita dan sesama.
Juni 27, 2008